Dedication for you San!

gambar_persahabatan_7

Animasi from gambarcantik.com

Tulisan ini sengaja aku dedikasikan untuk salah satu dari sekian sahabat-sahabatku ‘Santi Wahyufi Dingsih”. Hei, selamat ya sudah sampai tahap mendebarkan. Semoga perjalanan menuju impian diberi kelancaran dan saya percaya kamu bisa.

Oke, namanya Santi. Ya, sejak awal kenal nama panggilannya ya Santi, tapi beranjak ke sininya. Aku lebih sering panggil Santo ke dia. Awalnya, cuma pengen ngisi blog yang udah hampir sedikit usang. Kalau ibarat buku, blog ini udah berada pada tumpukan paling bawah dan Alhamdulillahnya belum sampai masuk kardus atau diloakan. Miris.Terus, udah berpekan-pekan ini memang lagi banyak banget himpitan seperti himpitan dinding misalnya, eh bukan kok? Himpitan kehidupan. Biasalah hidup tanpa masalah bagai sayur kurang garam. Bener nggak?

Tapi jangan sedih ya San. Tulisan ini bukan sekedar pengisi blog tapi lebih dari itu. Pure, this is dedication for you. Sebagai ungkapan kebahagianku atas semangat dan kerja kerasmu. Banyak hal yang bisa aku ambil dari banyak kebersamaan dengan si Santi ini. Satu, belajar kuat. Sebenarnya kuat nggak kuat, ya seseorang itulah sendiri yang bisa menjaga keseimbanganya. Tapi tetap saja kita ini punya titik lemah di mana kita perlu orang-orang yang bisa kasih kekuatan. Bukan ala-ala film Mak Lampir ya. Maksudnya adalah mencontoh kebaikan pada orang lain. “Kamu itu wonder women San, rugi kalau ada yang nyakitin kamu.” Inikan jargon kita dulu kalau salah satu lagi weak.

kedua, So many thing I get from you. Banyak banget hal yang udah dilewati bareng si Santi ini. Manis asemnya perjalanan di kota Apel kelewat bareng sama dia. Mungkin karena kita satu asrama kali ya, sekos juga, sepiring pernah nggak?

Tapi lantas akhirnya, aku harus ninggalin dia di kos seorang diri waktu itu. Masih adakan anak kos yang lain? Kalau ibarat main bola nih, aku itu keluar area lapangan tiba-tiba padahal pertandingan belum berakhir. Aku keluar area dengan masih membawa banyak mimpi-mimpi yang belum tercapai, belum tercapai tapi bukan berarti nggak sama sekali kan untuk bisa mewujudkanya?

Kadang aku sering banget mikir, kapan ya kita bisa ketemu lagi di dunia ini? Kalau nggak bisa nggak apa-apa kok tapi setiap sajak doa, ada harapan untuk bisa bertemu di akhirat nanti.

Thank you ya San. Buat selalu nyemangatin biar bisa apply scholarship juga. Nyemangatin biar mimpi-mimpi ini tetap menyala. Sukses ya buat interview ya! Semoga kita selalu mengingatkan dalam hal kebaikan.

Salam dari kami sekeluarga di Sintang Kalimantan Barat untuk dikau dan amak apakmu di Riau.

Advertisements

Good bye Winter

ilustrasi-badai-salju

Layar handphone nokia N15 ku masih menyala. Pesan singkat itu masih belum ku keluarkan ke menu awal. Mataku mulai berkaca-kaca, hawa dingin di luar sana menambah beku di hatiku. 24  jam yang lalu kami masih baik-baik saja, percakapan masih mengalir hangat dari pesan  yang terkirim lewat surel selepas shalat isya waktu Istanbul.

“Apa kau sehat di Istanbul Raina?” Notifikasi pesan darinya menghiasi layar handphone tua milikku.

Yeah, Im oke here. Kamu gimana di sana?”  Aku membalas dengan cepat pesan singkat darinya.

Sorry, sudah hampir 5 bulan ini nggak berkabar. Im busy Rai.” Iya kembali membalas pesanku.

Ah nggak apa. O iya, lusa aku pulang. Urusan di sini sudah selesai.”  Aku tersenyum meletakan handphoneku di atas meja.

Ku tunggu bermenit-menit belum juga ada balasan hingga aku terlelap di atas sajadah dan baru tersadar mendekati subuh. Usai shalat subuh aku buru-buru meraih handphone yang tergeletak di atas meja, aku sudah tak sabar ingin membaca pesan darinya.

Raina, aku minta maaf.”  Hanya itu balasan singkat dari orang di seberang sana. Tanganku dengan cepat mengetik huruf-huruf di keybord handphoneku

Maaf buat apa? Hey bukankah kita memang ingin bertemu?”

“Raina, sorry.” Lagi-lagi balasan singkat itu menghiasi kotak pesan yang masuk.

Ya tapi maaf untuk apa?” Aku lagi-lagi dibuatnya bingung

“Aku harus bilang ini Rai. Minggu depan aku akan menikah dengan Rindu. Maafkan aku ya Rai undangannya lewat email begini tapi Rindu sudah pernah bilangkan? Nanti datang ya, sekalian ketemu for the first time. Aku tunggu loh Rai.”

Aku tak tahu harus membalas apalagi untuk pernyataan yang baru saja aku baca. Rindu?Tidak pernah Rindu menyinggung masalah pernikahan, sama sekali. Bahkan saat pertama kali datang ke Istanbul, Rindu yang mengenalkan aku pada laki-laki yang baru saja menggundangku ke acara pernikahannya. Rindu yang selalu aktif menanyakan perkembangan komunikasi kami yang hanya sebatas pesan-pesan email, Rindu juga yang selalu semangat memintaku untuk mendo’akan laki-laki itu. Tapi kenapa Rindu yang justru bersanding dengannya bukan aku? Kenapa Rindu tega sekali mencabik-cabik harapanku. Kenapa laki-laki itu pernah faham dengan semua bahasa tulisanku.

Air mataku mengalir deras, tumpah ruah membasahi mukenaku. Ada sesak yang merambah di dada. Ada banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku, aku lelah menjawabnya sendiri.

***

Dingin di luar sana makin menyergap masuk, padahal aku sudah menyetel penghangat ruangan sedemikian rupa. Tetap saja dingin ini begitu menusuk. Kurapatkan switer abu-abu tua  ditemanai segelas latte hangat pagi ini aku duduk di atas kursi kecil di dekat tempat tidur sambil memandang ke arah luar dari jendela kamar.

“Raina.” Suara Salma mengangetkanku. Sejak percakapan itu, orang pertama yang kuhubungi adalah Salma. Teman satu flat  sekaligus teman sekelas ku ini selalu menjadi tempatku bercerita selama di Istanbul.

Aku tersenyum, memintanya masuk.

“Matamu lucu sekali.” Iya tertawa melihatku.

Ah kenapa dia tertawa, harusnya dia prihatin dengan kondisi hatiku. Aku bergumam.

“Raina, apa yang kau sedihkan? Bukankah kalian belum memulai apapun?” Salma menatapku yang masih terdiam memegang segelas latte hangat.

“Rai, kau termakan harapanmu sendiri selama ini.” Kali ini ia memegang tanganku. Air mataku kembali tumpah tak beraturan.

“Tidak ada yang salah Rai, hanya saja hatimu terbungkus oleh banyak mimpi tentangnya. Raina, cinta seharusnya tak begitu. Cinta tak seharunya sekedar berharap dan memberi harapan. Mungkin kau hanya sebatas mengagumi.”

Aku terdiam. Mungkin Salma benar. Cinta tak seharusnya begini. Menyiksa rasa yang terperangkap.

“Raina, hati juga perlu nutrisi agar kuat. Kesakitan ini yang akan membuat hatimu kuat. Kau harus tahu Raina, bahwa berharap lebih pada selain Sang Pencipta hanya akan meninggalkan luka.”

“Kau, Rindu dan dia tidak ada yang salah Rai. Percayalah ini adalah cara agar kita mampu melihat hidup ke depannya. Rai, percayalah semua sudah Tuhan atur. Tak perlu mengutuk diri, mengutuk yang telah terjadi.” Salma memelukku erat, menghapus sisa-sisa air mataku.

Akulah yang salah. Harapanku tentangnya begitu besar, aku lupa kepada siapa aku harus berharap sesungguhnya. Selama ini aku termakan tulisan-tulisannya, aku jatuh cinta dengan kalimat-kalimatnya, tapi nyatanya ia tak begitu padaku. Biarlah ku terbangkan rasa ini hingga hilang mengudara layaknya tulisan-tulisannya yang pelan-pelan ku delet  dari memoryku.

Seperti kisahku, musim dingin ini akan segera berlalu, berganti musim semi.

BerdaMai Dengan Hati

images

Sumber Ilustrasi: google.com

Aku berdiri menatap tajam pada sosok di hadapanku. Air mataku berlahan meluncur, seketika aku tak mampu menahan untuk tidak bicara.

“Kau pikir, menjadi aku nyaman?”

“Aku lebih baik sendiri, tidak memikirkan banyak hal bahkan tidak menyakiti siapapun.”

Aku terus saja menatap tajam sosok di hadapanku meski sesekali aku mengalihkan pandangan karena berusaha menutupi air mataku.

“Ah, kau yakin akan hidup sendiri?” Tiba-tiba saja terdengar suara lembut menjawab ocehanku.

Aku mencari-cari asal suara tersebut. Bahkan sosok di hadapanku ikut serta menoleh, menirukan gayaku. Bukan. Itu bukan suara sosok di hadapanku, buktinya dia juga ikut mencari asal suara tersebut.

“Ya, aku ingin sendiri. Sendiri.” Aku menjawab dengan lantang.

“Sudahlah, berdamai dengan hatimu.”

Aneh, semakin aku melantangkan suaraku, suara itu semakin lembut mengingatkanku. Hingga akhirnya suara itu menghilang saat aku sudah lelah berbicara, mengoceh dan lunglai karena mengeluarkan banyak air mata. Sosok di hadapanku nampak lelah. Kami sama-sama lelah.

Lantas aku berpikir, mencerna apa-apa yang disampaikan suara tadi.

Iya benar aku harus berdamai dengan hatiku, aku harus tahu bahwa aku takkan pernah bisa hidup sendiri. Kau tahu? Sedari tadi, ternyata aku hanya berdebat dengan diriku sendiri. Tak ada sosok yang berdiri di hadapanku, ia hanya pantulan diriku sendiri dan suara itu adalah suara hatiku.

Ah, ternyata selama ini aku yang tak pernah mau berdamai dengan hatiku sendiri, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan segala macam masalah. Padahal kalau aku mau BERDAMAI maka akan muncul rasa SYUKUR yang teramat besar dalam hidupku.

Dan bukankah kau tahu? Rasa SYUKURlah yang merupakan sumber untuk terus merasa BAHAGIA.

Mother’s Day is Everyday

Hari ini timeline Facebook, BBM, Instagram, Line, dan twitterku dipenuhi oleh status menyejukkan. Isinya apalagi kalau bukan tentang ‘Mother’s Day’. Ada yang kira-kira bunyinya begini ‘Semoga Ibuku dan Ibumu besanan #Happy mother’s day.”

Wow That Amazing.

Aku misalnya, sejak dua tahun terakhir ini bisa dikatakan tidak pernah absen menulis tentang ‘Mother’s Day’ [beberapa di blog lama]. Aku suka. Itu alasannya. Sangat suka ketika harus menulis dan menceritakan tentang sosok IBU. Bagiku, menulis banyak hal tentang IBU tidak akan pernah habis. Aku tidak perduli meski Mamakku bukanlah seorang ibu-ibu sosialita yang saban hari berkutat dengan media social, aku juga tidak perduli ketika Mamakku bukanlah tipe Ibu kebanyakkan yang sudah handal bermain facebook hingga instagram. Bahkan meski beliau hanya bisa mengangkat telpon dan membalas sms [short message service] aku akan tetap menulis tentangnya di laman blogku bahkan mungkin bukuku [kelak 🙂 ].

Alasannya kenapa? Karena aku suka. Karena Mamakku adalah Ibuku. Aku akan memberitahu beliau manakala bertelpon atau bercakap langsung – bahwa aku menulis tentangnya di blog atau event-event menulis yang aku ikuti.

Terlebih dan terlampau banyak sekali kelakuan bahkan ucapan yang acapkali membuat Mamak kemudian merasa sedih, aku tetap akan terus berusaha membuatnya bahagia. Ini tentu PR besar yang harus diselesaikan sebagai seorang anak.

Tentang ‘Mother’s Day’, menurutku wajar saja kalau kebanyakan orang lantas menulis status tentang IBU ditanggal 22 Desember ini. Toh, pada tanggal 17 Agustus pun semua megucapkan ‘Independent Day’ di akun sosial media mereka. Itulah fenomena hari ini yang kita saksikan.

Fenomena lainnya adalah ada saja yang berkata ‘Buat apa bikin status manis-manis tentang IBU kalau masih ini, itu, bla, bla.’ Ujung-ujung justu menimbulkan pro dan kontra tentang kenapa hari IBU hanya 1 hari saja, apa kita harus berbakti hanya satu hari saja. Jawabannya jelas saja NO. Ingat NO. Seumur hidup bahkan hingga berhenti bernafas kita tetap hari berbakti kepada IBU. Wong jelas-jelas tiga kali untuk dihormati disebutkan dalam hadist Nabi.

Mengenai hari IBU, menurutku Mother’s day is everyday. Namun jikalau hari ini adalah Mother’s Day. Sah-sah saja. Dengan status kebanyakan yang mengucapkan Happy mother’s day juga sah-sah saja. Hanya saja perlu sekali kita sama-sama merenung, apa sesungguhnya makna ‘Happy Mother’s day’. Apa hanya sebatas sebuah kalimatnya yang bisa kita delete begitu saja. Tentu bukan dong.

Yuk sama-sama kita bermuhasabah dimoment ‘Mother’s day’ ini. Sudah sejauh mana kita berbakti kepada kedua orang tua kita? Sejauh mana mereka tersenyum bahagia karena kita?

Agar moment ini bukan hanya sebatas tanggal tanpa makna.

cats

Ilustrasi: google.com