Apa yang kita cari?

Fisik akan berubah, rambut yang menghitam akan memutih, kulit yang begitu kencang akan kendur dan rupanya perubahan itu adalah keniscahayaan. –

Apa sebenarnya yang kita cari saat mencintai dan menerima seseorang untuk tetap tinggal dalam hidup kita?

Oka Rusmini mengatakan bahwa jika kita memilih pasangan, pastikan bahwa kita yakin bahwa kita memerlukan nya dalam hidup kita.

Dan tentu ada hal yang harus benar benar kita pikirkan dari awal menerima tentu bukan hanya berlandaskan perasaan atau ‘kepingin’ saja.

Seiring berjalannya waktu, setiap kita akan menua, menjadi berubah fisiknya bahkan mungkin hatinya. Siapa yang tahu?

Bahkan pernikahan yang dibangun berpuluh puluh tahun saja bisa kandas begitu saja. Atau pernikahan yang baru saja dimulaipun bisa saja ambruk. Bisa saja faktor, ekonomi, kepuasan seksual atau apapun bisa jadi memicu.

Maka dari kesemua masalah itu, kita lah yang berusaha sadar, merenungkan bukan hanya sebatas perasaan, menelaah bukan terburu-buru, mengatur hati bukan hanya kepingin saja atau butuh sesaat dan yang paling penting adalah berdoa pada Tuhan.

Niat adalah hal yang paling krusial sejak awal. Berbekal niat dan kekuatan hati mengatur dan memerangi hawa nafsu adalah salah satu senjata untuk bisa merawat cinta.

Menuanya pasangan, berkurang nya kemampuan adalah hal hal yang harus saling didiskusikan dan difahami.

Sebenarnya aku nulis panjang lebar begini habis nonton kick andy yang tanyang 2017 lalu di youtube. Nah, aku kemudian nonton kisah cinta mengharukan seorang perempuan difabel dengan kisah hidup yang luar biasa. Anak yatim piatu yang dibuang orangtuanya sejak bayi dan akhirnya bertemu lelaki yang tulus mencintainya. Kalau mau lengkapnya bisa ditonton Full ya di Youtube. Aku udah nangis berat ini.

Iya, dalam hidup ini kita hanya perlu menerima, bersyukur yang banyak, setia untuk bisa terus bahagia.

๐Ÿ’โค๏ธ

Advertisements

Aku dan diriku

Pic: Pinterest

Kota semakin ramai terlihat, meski hanya gemerlap lampu yang bisa di jangkau. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 23.59. Aku jadi teringat sebuah kalimat yang aku baca tadi siang, betul sekali, semakin ingin tidak berpikir negatif selalu saja semakin kuat untuk berpikir negatif, sampai mataku ini tak bisa dipejamkan. Ah, hidup memang kadang tak perlu meratapi yang lalu apalagi mencemaskan yang akan datang. Cukup jalani yang ada. Kini.

Mataku masih saja menatap keluar dari kaca apartemen yang sudah hampir setahun ini aku tempati. Ditemani segelas teh hangat dengan sedikit gula favoritku.

“Kau masih saja rajin merawat lukamu.” tiba-tiba saja dia muncul lagi tepat dihadapanku

“Aku tak merawat apapun.” Jawabku malas.

“Kalau tidak, kenapa kau menangis?”

Sial, dia memergogiku sedang menangis. Mau mengelak, jelas sudah air mataku memang mengalir diam diam sejak tadi dari sudut sudut mataku.

“Sudah, jangan dirawat, jangan pula dicemaskan yang belum terjadi.” Kali ini ia berkata santai sambil mengambil teh hangatku.

“Tak sopan.” Gumamku

Kulihat ia masih menikmati teh hangat milikku.

“Aku hanya….” Suara kutertahan. Tangis ku tumpah.

“Hanya apa?” Ia menatapku dan meletakan teh yang baru selesai ia habiskan

“Aku hanya tak tahu, kemana arah hidupku.”

“Kau cemas? Hey, apa yang kau cemaskan. Hidup yang akan datang tak perlu begitu sangat kau rencanakan.”

Aku mulai malas melanjutkan obrolan kalau ia sudah jadi sok tahu begini.

Aku tak pernah begitu merencanakan apapun semenjak aku pernah berencana hidup dengannya. Aku tak pernah lagi banyak memikirkan hal hal yang belum terjadi saat dimana ia yang kumasukan dalam daftar hari hariku kelak justru hilang entah kemana.

“Aku tak pernah minta macam-macam atas hidupku. Aku tak minta ini dan itu, tentang gemerlapnya dunia ini. Aku hanya ingin satu saja.” Aku terisak, tak mampu kubendung air mataku.

Ia menatapku.

“Apa yang kau mau? Sudah kau minta dengan Tuhan?”

“Aku ingin hidup dalam hidupnya selamanya hingga dunia sudah tak menjadi dunia, hingga hidup hanya berada dalam satu negeri yaitu akhirat. Itu saja.” Aku menarik nafas panjang.

Ia menantapku nanar.

Sedang aku memeluk lututku kuat kuat.

“Kau tak boleh termakan egomu dalam hal ini.” Ia berucap pelan. Suaranya begitu pelan.

Aku ingin menjawabnya, namun tiba-tiba saja dia sudah tidak ada lagi di hadapanku.

Aku baru sadar. Tak ada satu orangpun dari tadi dihadapan ku, hanya ada aku dan bayanganku sendiri di kaca apartemen. Aku hanya sedang bicara dengan diriku sendiri.

Ku seka air mataku, kuhirup udara malam yang semakin larut. Semoga aku kembali bisa berdamai dengan hatiku sendiri.

Hujan dan Kita

Aku kira lagu ‘November Rain’ hanya sebuah lagu saja. Rupanya 2018 ini sejak awal bulan November hujan setia menguyur tanah yang kupijaki.

Atau sekedar puisi ‘Hujan Bulan Juni’ yang begitu terkenal dikalangan pencinta puisi. Penuh makna. Rupanya Juni lalu hujanpun mengguyur bumi ini.

Kenapa yang mereka tulis berkutat tentang Hujan, dan bulan? Entahlah, tentu hanya mereka yang tahu. Yang aku mengerti, cerita cerita hidup acapkali berkaitan dengan, hujan, bulan, menjadi kenangan dan masuk kembali menjadi masa depan.

Kisah-kisah selalu berseleweran antara hujan, bulan, kenangan dan masa depan.

Sore itu, hujan mengguyur kota. Aku bergegas masuk ke dalam sebuah kedai, menikmati coklat panas sambil memandang keluar jendela. Ponsel ku letakan di sebelah kanan, sesekali aku melihat notifikasi yang muncul di layar ponsel. Kemudian membiarkan tak dibuka. Kau panggil saja Laras. Ya Laras. Kedatangan ku ke kedai sore ini untuk menunggu seorang teman yang berjanji akan tiba pukul 16.00 namun hingga 16.15 dia masih belum muncul.

Kedai tak begitu ramai hanya beberapa pengunjung dan dua pasangan yang duduk tak jauh dariku. Keduanya berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Aku jelas mendengarnya.

“Kalau begitu, tak ada yang perlu dilanjutkan. Anak-anak ikut aku.” Tegas sang lelaki.

Sang perempuan hanya terdiam. Menangis.

Aku ingin sekali menutup rapat telingaku. Tujuanku ke kedai adalah menikmati coklat dan menunggu teman. Kenapa jadi mendengar pertengkaran.

Tak lama lelaki itu pergi meninggalkan wanita tersebut yang masih menangis. Dan kemudian ia pun pergi.

Aku menghela nafas. Panjang.

Sesaat kemudian, temanku datang. Tergesa-gesa. Kulihat matanya sembab. Belum sempat bertanya. Dia sudah berhambur memeluk tubuhku hingga hampir terjatuh dari kursi.

“Hey, ada apa?” Tanyaku.

Masih tak ada jawaban, hanya isak yang terdengar.

“Laras. Bimo sakit.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

“Sakit? Sakit apa?” tanyaku lagi.

Dia kembali menangis. Membiarkan aku menerka nerka.

“Bimo membatalkan pernikahan kami La.” Ia melontarkan kata kata di luar dugaan.

“Apa?” Aku setengah berteriak. Sakit dan batal menikah apa hubunganya. Undangan mereka sudah tersebar hanya tinggal hitungan detik.

“Bimo sakit La.”

Aku terdiam, menggigit bibirku sendiri. Setelah mendengarkan bahwa tak ada harapan Bimo untuk kembali sehat. Aku tahu betul bagaimana perjalanan keduanya hingga titik ini.

Aku hanya bisa memeluk Rona tanpa kata kata. Percuma pun aku berkata kata, menasehati atau apapun itu. Rona hanya perlu dipeluk. Aku tahu sesaknya luar biasa.

Pikiranku berguguran mengigat banyak hal. Tentangmu. Ya tiba tiba pikiran ku teringat akan engkau.

Aku ingat percakapan kita kala itu di tepi pantai. Kau berucap banyak hal termasuk sebuah penerimaan tentang hidupku.

Ya aku tahu, menerima bukan hanya kata-kata. Ia perlu diresapi dan dijalani.

Aku menggegam tangan Rona, kuat.

“Rona, andai kau tahu. Bimo tak bermaksud menyakitimu. Ia hanya memberimu ruang untuk memilih bahagiamu.” gumamku.

“Laras, apa kau siap melepaskan ia, demi bahagianya? Atau memaksanya untuk menerimu, seutuhnya. ” tanyaku berbisik pada diriku sendiri.

Rona, kau tahu. Aku pun seperti Bimo.

Hujan mulai reda, Rona sudah pamit tapi aku masih di kedai, menunggumu datang. Kulihat senyum manismu dengan bunga mawar yang selalu kau bawa untukku.

Ah kau, mau kah kau menerima ku untuk menjadi kita atau justru aku harus melepaskanmu demi bahagiamu?

Beri aku jawaban!

….

Regards

Hani Septiana

Titik Jenuh

“Telah sampai pada titik yang tak pernah aku mau. Ya, titik jenuh.”

Tangisku pecah di ujung percakapan dengan Ibuku. Tubuhku, kupaksakan bangun dari tidur seharian. Badan lemasku, ku usahakan untuk kuat dan aku tak mampu. Aku tertahan pintu lemari untuk tidak benar-benar jatuh.

Ya, kali ini aku mengeluh banyak hal. Meski aku tidak berucap apapun tapi tangisku yang tiba tiba pecah cukup menggambarkan apa yang aku rasakan.

“Bu, aku capek. Jenuh” Hanya itu yang keluar dari bibirku. Tanganku meremas-remas ujung baju yang kukenakan.

Aku ingin kembali menjadi aku yang belasan tahun lalu. Aku ingin kembali menjadi anak Ibu dan Bapak yang merengek nangis minta diantar ke sekolah meski hujan. Aku ingin menjadi anak Ibu dan Bapak yang tertidur pulas di depan TV dan diangkat ke tempat tidur. Atau sekedar bermainan di samping rumah , tertawa lepas.

Hiruk pikuk kehidupan dewasa ini telah menguras banyak hal dalam tubuh ringkihku. Tak ada satupun yang memahami, kecuali aku dan Pemberi kehidupanku serta Ibu dan Bapak.

Yah, ini receh untuk perempuan seperempat abad ini. Tapi aku tetaplah manusia. Butuh didengar, bukan diabaikan, butuh difahami bukan disakiti.

Hingga sampai di titik jenuh ini, aku tahu bahwa hanya akulah yang memiliki tubuhku, bukan oranglain. Aku yang harus menjaganya, aku yang harus mencintainya dan aku yang harus menghargainya.

Di titik jenuh ini aku belajar memaafkan siapapun bukan karena aku lemah tapi karena aku tahu, semakin aku berkutat dengan kecewa kecewa ku dan keinginaku, semakin luka-luka itu terasa. Aku tentu amat sangat ingin mengutuk siapapun yang melukaiku, mengumpatnya. Tapi tidak, itu bukan ranahku. Aku percaya Tuhan Maha Adil.

Aku hanya ingin kuat, untuk hidupku ke depan, untuk Ibu dan Bapak, untuk adik adik dan untuk siapapun yang mencintaiku.

Dan sebagai manusia. Aku tetaplah manusia. Butuh pelukan untuk hangat, butuh doa untuk kuat.

๐Ÿ€ HS

Review Lagu : Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

Pic: Pinterest

Saat aku menuliskan, kalimat perkalimat ini, jam menunjukan pukul 22.23 malam. Kebiasaan tidur cukup larut ini kembali kugemari semenjak setahun belakangan. Bukan insomnia tapi memang, entahlah.

Yah malam ini saat aku menulis tulisan ini aku tengah menikmati lagu Banda Neira “Yang Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Sudah 3 hari ini playlist musicku selalu lagu ini. Berulang ulang. Tanpa bosan.

Lagu ini seperti memberi energi tersendiri untuk dinikmati. Alih-alihnya aku mau mereview lagu ini. Alunan nadanya mendayu diiringi suara merdu sang penyanyi. Grup band yang berasal dari Maluku Utara ini, berhasil menciptakan lantunan yang syahdu dinikmati sambil menikmati sepotong roti dan segelas kopi [bisa teh atau susu] di pagi hari. Atau sekedar menikmati senja.

Lagu ‘Yang Patah Tumbuh Hilang berganti’ ini menyuguhkan beberapa kalimat yang menurutku bisa kita renungkan saat dalam keadaan patah.

๐Ÿ€ Bait awal adalah meski saat tubuh tersungkur, berselimut debu dihatam panas kita harus tahu bahwa kita berhak dan harus bangkit.

Intinya, lagu ini menurutku menyemangati siapapun yang tengah jatuh, tengah patah dan putus asa.

Coba deh dengarin, kita akan diajak meresapi bahwa luka, kecewa, patah adalah sementara. Dan saat kesedihan kita melanda, kita tak pernah sendiri melewati nya. Tak perlu mengutuk diri. Ingat, kita tak sendiri.

Pun saat kita bahagia, kebahagian kita berhak kita bagi pada siapapun. Jadi ‘Dunia milik berdua’ itu kita hilangkan saja. Kenapa? Karena saat kita berbahagia, tentu itu adalah kerjasama alam semesta, ribuan sel, doa-doa tulus yang mereka panjatkan. Jadi berbagilah!

๐ŸฏUntuk rambahan luka yang masih asyik menyubur rindu di hati semoga segera kering. Meski bukan kering untuk setiap kenangan cukup lukanya saja. Sehingga saat datang masa yang baru dengan sesuatu (seseorang) yang sama atau sebaliknya kita siap membuka cerita manis dalam hidup kita.

๐ŸฏUntuk harapan yang masih sudi bertahta, telah terpasrah pada semesta karena yang bagimu maka akan kembali padamu.

-Yang sakit akan terobati, yang sia sia akan jadi bermakna dan yang pernah jatuh akan berdiri lagi. –

Untuk link download lagunya, bisa search sendiri di youtube atau beberapa situs download mp3 lainnya. Selamat menikmati lagunya dan selamat bangkit dari jatuh dan kembali tumbuh.

O iya, lagu ini enak sekali sebagai teman perjalanan khususnya saat duduk dikursi pesawat terbang atau sekedar bus mini menuju kampung halaman. ๐Ÿ™

.

Regards

H. S

Bagian dari sebuah buku (1)~ Hijrah Ekstrim

Pic: Kamera diri sendiri

Judul :Hijrah Ekstrim

Penulis :Mirani Mauliza

Sebenarnya ini bukan resensi buku, sekedar review buku yang minggu lalu sempat aku baca dan pinjam di @planetilmu. Buku dengan Co writer Sofie Beatrix dan Febrianti Almeera ini diangkat dari kisah nyata.

Pertama baca, aku sedikit merasa bosan. Tapi karena tanggung jawab menuntaskan bacaan akhirnya aku lanjutkan halaman perhalaman dan diluar dugaan aku semakin penasaran. (Yang ini, masih beratan baca buku terjemahan ๐Ÿ˜‚).

Alhasil buku terselesaikan. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan hidup seorang Mirani. Pesan-pesan yang disampaikan begitu luar biasa. Beberapa yang bisa aku petik :

1. Setelah baca, aku manggut manggut mikir. Iya, hidup ini selalu ada feedback. Apa yang kita lakukan akan selalu kita tuai. Baik ya nuainya baik, begitu sebaliknya.

2. Penerimaan. Yah lagi lagi penerimaan. Perjalanan kisah cinta Mauliza mengabarkan bahwa penerimaan itu penting. Kalau tidak sabar dan tulus, mana bisa. Di buku dijelaskan bahwa Mauliza menerima pinangan suaminya dalam posisi sedang dilema antara masalalu. Yah, Yang tepat memang akan datang tepat waktu tidak akan terlambat.

3. Keberanian, dibuku diceritakan bagaimana keberanian mereka melewati segala perkara dan cobaan.

4. Istiqomah. Ini penting. Sedikit kalau istiqomah jauh lebih baik.

………..

Kalau kemarau adalah kesedihan dan hujan adalah kebahagian maka kita perlu keduanya untuk bisa melihat pelangi (Mirani’s Father in-law)

Kadang-kadang kalau kepingin menang sendiri, aku jadi ingat kata seorang teman saat adu pendapat. Dia bilang ‘Mungkin saya yang kurang baca’. Terus aku mikir, bacaan diakan tebal tebal, masa masih kurang?

Membaca akhirnya bukan hanya tentang buku, tapi juga perjalanan hidup oranglain. Selamat membaca sebagai perintah Tuhan.

NB: yang mau pinjam-pinjam buku bisa lihat review nya di @sayuerni

.

Regard

HS

Arti Bertahan

Pada akhirnya yang terlihat bahagia belum tentu sebahagia yang terlihat, begitu sebaliknya.

Sore itu jam menunjukan pukul 16.00, aku menyempatkan diri berkunjung ke Perpustakaan kampus tempat kubekerja. Tiba-tiba ada seorang mahasiswa bertanya perihal dosen padaku. Setelah ku jawab akhirnya, pelan-pelan kubuka obrolan.

Bapak, asli Kalimantan?” Tanyaku. Memanggil mahasiswa di tempatku bekerja dengan sebutan Bapak, sangat lah lumrah karena beberapa usia jauh sekali di atasku.

Bukan bu, saya aslinya Jawa Barat.” Beliau menjawab

“Jauh ya pak, gimana bisa sampai Kalimantan, transmigrasi atau gimana” Entahlah, tapi kali ini pertanyaan kepoku mulai keluar

Bukan, niatnya nyari kerja.”Beliau menjawab dan menjelaskan kenapa akhirnya bisa sampai ke Kalimantan.

Waktu itu, aku tidak begitu ingat tahun berapa beliau pergi ke kota khatulistiwa ini, yang pasti aku SD waktu itu. Bapak ini, dulu pernah jadi pengusaha bakso saat masih di Jawa Barat, punya banyak gerobak bakso dengan beberapa pegawai. Bahkan beliau sudah mampu beli motor dua buah dengan cash.

Kebahagiaan tak berlangsung lama, suatu hari saat akan pergi keluar terjadilah kecelakaan dan korbanya anak pejabat daerah. Bisa dibayangkan, beliau harus mengganti rugi semuanya hingga seluruh gerobak dijual.

Beliau juga pernah ikut proyek pembuatan rumah untuk korban bencana Aceh saat itu. Dan sempat tidak dibayar oleh bosnya hingga akhirnya beliau kelaparan dan apa yang dilakukan beliau di luar dugaan. Beliau meminta makan dengan dua orang suami istri yang kebetulan satu mobil dengan beliau.

Barulah kemudian, beliau diberitahu bahwa jika ingin merantau pergilah ke Kalimantan (Orang di sana punya sebutan sendiri, dan aku benar benar lupa). Dan akhirnya beliau berangkat sendiri. Sendiri untuk ukuran laki laki itu sebuah keharus menurutku tapi anehnya Bapak ini tak punya tujuan, hanya ingin ke Kalimantan. Saat itu, tiket pesawat mungkin tak banyak promo seperti sekarang , kapal laut adalah solusi paling ampuh untuk berkunjung antar pulau.

Di Kapal laut inilah kisah baru kembali dimulai. Beliau ini bertemu dengan seorang Bapak-bapak paruh baya, bercerita tentang keinginannya kenapa bisa naik kapal tersebut. Dan ternyata mereka sama-sama orang Jawa Barat. Lewat Bapak inilah, akhirnya beliau bisa tinggal di Kalimantan Barat. Dan beliau bilang, dia lah yang jadi mertua saya hari ini. Saya tercengang mendengarnya.

Menikah dengan putri orang yang dikenal beliau di kapal adalah suatu hal yang kalau dipikirkan oleh kita, luar biasa sekali skenario Tuhan. Bahkan saat menikah beliau tak punya apa-apa. Barulah setelah menikah beliau di minta noreh (red:mencari air getah) dengan penghasilan 300 ribu perbulan. Yah you can imangelah…

Tapi benar janji Allah, bahwa yang menikah akan Allah beri rezeki berlimpah. Setelah kesulitan itu, akhirnya beliau bisa membuka sebuah madrasah diniyah yang tercatat di Kementerian Agama dan memiliki santri kurang lebih 100 orang.

Senyum Bapak itu mengembang saat usai bercerita.

Tinggal aku yang mencerna.

Pertama, Hidup ini tentang survive~bertahan. Yang tak mampu bertahan maka akan punah. Teori ini cukup benar adanya.

Kedua, sesederhana itu kisah manis orang orang tempo dulu. Penerimaan yang tak menuntut dan banyak sekali pelajaran lainnya. Berbeda tentu dengan hari ini, kita lebih sering menolak yang jelas baik dan sehat bagi kita hanya karena perkara selera. Egois bukan?

Tapi percayalah cinta selalu mendatangkan kebahagian lewat hal hal sederhana tak perlu mewah. Dari kisah bapak ini, tentu beliau menemukan sepasang kaki yang mau berjalan meski tanpa alas kaki. Bertahan bersama demi keutuhan rumah tangga. That is amazing, right?

Even, aku suka gemes aja kalau lihat orang meninggikan selera tapi lupa berkaca. Atau dengan entengnya menolak yang baik bagi hidupnya hanya karena alasan yang tidak masuk akal.

Ketiga, ini yang aku suka dari membaca, belajar dari hidup orang lain. Sastrawan Gunawan Muhamad bilang, kesepian yang kita rasakan barangkali karena tak ada tanggung jawab sosial.

Semoga tulisan ini mengajarkan kita makna bertahan. Bertahan dari apapun untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Regard

HS

Rindu saja..

Rindu saja, sesukamu. Ingat sesukamu.

Rindu saja, toh rindu adalah sebuah rutinitas tak berbayar.

Rindu saja, kita berhak merindu.

Rindu saja, rindu yang memiliki persamaan kata dengan ‘kangen’ tak mengharuskanmu untuk berjumpa.

Rindu saja, karena hati punya ruang untuk merindu apa yang mau ia rindu.

Rindu saja, bahkan anak bayi saja lebih sering merasakan rindu dengan Ibunya, meski hanya ditinggal mencuci baju.

Rindu saja, biar yang kau rindu di Sabang dan kau di Merauke.

Untuk itu semua, kupilih kau saja sebagai rinduku.

Jangan tanya alasan. Aku enggan beralasan untuk sebuah rindu. Selagi itu merindukanmu aku tak pernah merugi, tak pernah merasa membayar, tak pernah dituntut. Toh meski tak berbalas rindu tetaplah rindu, ia tak pernah bersalah.

Mungkin aku yang sedang keliru merindui seseorang yang aku rindu.

Salam

Pena Bersayap

[Resensi Buku] Asmaradana

Judul : Asmaradana [Ketika Semesta Cinta Menyala]

Penulis : Rifaroa dan Parmatos

Tahun : 2018

Jumlah hal: 107 hl

“Aku selalu percaya bahwa buah kesabaran begitu manis. Ibarat orang puasa yang menahan dahaga dan lapar sejak gelap hingga petang menjelang. Semakin panjang kesabaran, maka indahnya ganjaran menjadi keniscahyaan.”~ Rifaroa

“Menganalmu melalui tulisan artinya mengenalmu dari sisi pemikiranmu. Mengenalmu dengan cara memahami bagaimana kau memandang kehidupan, itu seru dan aku bersyukur. Maka setelah ini, akan kusampaikan permintaanku yang kedua.” Bolehkah aku untuk terus mengenalmu?” ~Parmantos

“Kamu datang disaat bentengku sedang tumbuh meninggi dan menebal. Kamu menawarkan romansa sehidup semati, sedang aku masih menimbang:mestikah aku membangun jembatan atau bentengku kupertebal? ~Rifaroa

“Akan tiba saatnya aku yang baru dalam kehidupamu ini, duduk tepat di depan ayahmu. BAPAK- begitu kau memanggilnya. Seseorang yang menjadi cinta pertamamu” ~Paramantos

QOUTES

dibuku ini ada beberapa qoute yang manis sekali menururtku.

Bagian 1 Kita

Dua elemen berjalan sendiri sendiri dituntun semesta untuk saling menemukan, hingga nanti mencapai waktu untuk berikatan. Tangan Tuhan ada dimana mana, karenanya lebih dari mampu untuk mendekatkan kita. Hal 2

Kita mengobrol banyak hal kala itu.

Karena setelah momen di filosofi kopi itu, candumu bertambah satu:Aku. Hal 17 ~Parmantos

Bagian II Cinta

Dalam perjalanan ini, kita tak sanggup sendiri Rasa hangat menjalar di dada yang dititipkan Nya bernama Cinta, memangkas jarak kita menjadi tinggal dua hasta bersiap meramu cita, menyulut asa. Hal 20

Bagian III Cita

Temu telah terbayar lunas, asa belum genap terajut. Masih jauh jalan kita menghadang, ada aku kamu dan bahagia menanti di depan. Hal 42

SUMMARY AND OPINI

Akhirnya, setelah lama kepingin belajar ngeresensi buku, keturutan juga. Intinya ini ngeresensi pertama kalinya, jadi kalau kurang di sana sini mohon di beri masukan ๐Ÿ™‚ . Oh iya, buku yang resensi ini aku dapat dari giveaway honeymoon yang diadakan penulis. Seneng banget, soalnya buku datang di penghujung ramadan kemarin.

Buku ini manis banget, mulai dari cover yang di desain simple tapi manis. Perpaduan warna yang pas. Buku ini dibagi jadi 3 bagian.

Bagian satu itu subjudulnya kita. Nah, pas bagian ini keduanya menjelaskan bagaimana pertemuan mereka, mulai dari tertarik lewat tulisan, definisi kamu dan keajaiban kopi.

Nah bagian kedua subjudulnua Cinta. Bagian ini makin bikin penasaran buat nerusin ke halaman berikutnya. Penulis menjabarkan kisah kisah mereka selanjutnya, pertemuan dengan orangtua, pernikahan dan keduanya yang harus berpisah sementara karena jarak. Dikemas ringkas dan nyaman untuk dinikmati kalimatnya.

Dan bagian terakhir dari buku ini adalah tentang cita cita keduaya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga.

Buku ini juga disisipkan nasehat pernikahan pada pernikahan penulis dan penulis juga membubuhi makna dari visi sebuah pernikahan. Dan semua dikemas dengan renyah karena berdasarkan perjalanan cinta keduanya.

Dan di buku ini juga di sajikan pilihan lagu romantis seperti lagunua Jonas Brothers, kemudian thousand years nya Christina Perri.

Nah, sekian resensinya. Terimakasih banyak untuk penulis atas buku manisnya.

Salam

Pena Bersayap

Kita adalah KITA

Sumber Pic: Pinterest

Izinkan aku bersajak untukmu. Maukah kau mendengarkan sedikit sajakku ini. Sedikit saja, jika nanti terlampau banyak jangan salahkan aku ya. Karena, saat aku menuliskan apa pun tentangmu, semua terasa begitu luas.

Bagaimana, kau sudah siap?

O iya, kuberitahu. Aku sedang menyelesaikan buku bacaan yang cukup berat judulnya Instanbul (Orhan Pamuk) baru sampai halaman 60. Novel terjemahan memang menguras sedikit tenaga.

Jadi kau penasaran sajak apa yang ingin kutulis? Baiklah.

Kau tahu, kau adalah diam-diamku yang kutatap dari jendela kamar. Kau pasti menyangkal, kitakan bukan tetangga. Ya, betul sekali. Tapi saat pertamakali kubuka jendelaku setiap pagi, aroma parfummu begitu khas terasa.

Kau yang tak beraniku mimpikan tak pula berani kuharapkan. Lalu? Karena keduanya akan begitu menyakitkan. Kau kepasrahanku pada semesta, meski setengah mati aku menepis segala mimpi dan harap tentangmu

Perbincangan panjang, cara bicara segalanya terekam rapi. Ah, kita bukan kisah Laila dan Majnun yang tersohor atau kisah romantis di dongeng-dongeng sebelum tidur.

Kita adalah kita dengan cerita kita sendiri. Aku tak mau jadi dongeng, tak mau juga jadi lagenda. Aku mau kita menjadi KITA dalam cerita kita yang menjadi nyata.

Salam

Pena Bersayap