Rindu saja..

Rindu saja, sesukamu. Ingat sesukamu.

Rindu saja, toh rindu adalah sebuah rutinitas tak berbayar.

Rindu saja, kita berhak merindu.

Rindu saja, rindu yang memiliki persamaan kata dengan ‘kangen’ tak mengharuskanmu untuk berjumpa.

Rindu saja, karena hati punya ruang untuk merindu apa yang mau ia rindu.

Rindu saja, bahkan anak bayi saja lebih sering merasakan rindu dengan Ibunya, meski hanya ditinggal mencuci baju.

Rindu saja, biar yang kau rindu di Sabang dan kau di Merauke.

Untuk itu semua, kupilih kau saja sebagai rinduku.

Jangan tanya alasan. Aku enggan beralasan untuk sebuah rindu. Selagi itu merindukanmu aku tak pernah merugi, tak pernah merasa membayar, tak pernah dituntut. Toh meski tak berbalas rindu tetaplah rindu, ia tak pernah bersalah.

Mungkin aku yang sedang keliru merindui seseorang yang aku rindu.

Salam

Pena Bersayap

Advertisements

[Resensi Buku] Asmaradana

Judul : Asmaradana [Ketika Semesta Cinta Menyala]

Penulis : Rifaroa dan Parmatos

Tahun : 2018

Jumlah hal: 107 hl

“Aku selalu percaya bahwa buah kesabaran begitu manis. Ibarat orang puasa yang menahan dahaga dan lapar sejak gelap hingga petang menjelang. Semakin panjang kesabaran, maka indahnya ganjaran menjadi keniscahyaan.”~ Rifaroa

“Menganalmu melalui tulisan artinya mengenalmu dari sisi pemikiranmu. Mengenalmu dengan cara memahami bagaimana kau memandang kehidupan, itu seru dan aku bersyukur. Maka setelah ini, akan kusampaikan permintaanku yang kedua.” Bolehkah aku untuk terus mengenalmu?” ~Parmantos

“Kamu datang disaat bentengku sedang tumbuh meninggi dan menebal. Kamu menawarkan romansa sehidup semati, sedang aku masih menimbang:mestikah aku membangun jembatan atau bentengku kupertebal? ~Rifaroa

“Akan tiba saatnya aku yang baru dalam kehidupamu ini, duduk tepat di depan ayahmu. BAPAK- begitu kau memanggilnya. Seseorang yang menjadi cinta pertamamu” ~Paramantos

QOUTES

dibuku ini ada beberapa qoute yang manis sekali menururtku.

Bagian 1 Kita

Dua elemen berjalan sendiri sendiri dituntun semesta untuk saling menemukan, hingga nanti mencapai waktu untuk berikatan. Tangan Tuhan ada dimana mana, karenanya lebih dari mampu untuk mendekatkan kita. Hal 2

Kita mengobrol banyak hal kala itu.

Karena setelah momen di filosofi kopi itu, candumu bertambah satu:Aku. Hal 17 ~Parmantos

Bagian II Cinta

Dalam perjalanan ini, kita tak sanggup sendiri Rasa hangat menjalar di dada yang dititipkan Nya bernama Cinta, memangkas jarak kita menjadi tinggal dua hasta bersiap meramu cita, menyulut asa. Hal 20

Bagian III Cita

Temu telah terbayar lunas, asa belum genap terajut. Masih jauh jalan kita menghadang, ada aku kamu dan bahagia menanti di depan. Hal 42

SUMMARY AND OPINI

Akhirnya, setelah lama kepingin belajar ngeresensi buku, keturutan juga. Intinya ini ngeresensi pertama kalinya, jadi kalau kurang di sana sini mohon di beri masukan 🙂 . Oh iya, buku yang resensi ini aku dapat dari giveaway honeymoon yang diadakan penulis. Seneng banget, soalnya buku datang di penghujung ramadan kemarin.

Buku ini manis banget, mulai dari cover yang di desain simple tapi manis. Perpaduan warna yang pas. Buku ini dibagi jadi 3 bagian.

Bagian satu itu subjudulnya kita. Nah, pas bagian ini keduanya menjelaskan bagaimana pertemuan mereka, mulai dari tertarik lewat tulisan, definisi kamu dan keajaiban kopi.

Nah bagian kedua subjudulnua Cinta. Bagian ini makin bikin penasaran buat nerusin ke halaman berikutnya. Penulis menjabarkan kisah kisah mereka selanjutnya, pertemuan dengan orangtua, pernikahan dan keduanya yang harus berpisah sementara karena jarak. Dikemas ringkas dan nyaman untuk dinikmati kalimatnya.

Dan bagian terakhir dari buku ini adalah tentang cita cita keduaya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga.

Buku ini juga disisipkan nasehat pernikahan pada pernikahan penulis dan penulis juga membubuhi makna dari visi sebuah pernikahan. Dan semua dikemas dengan renyah karena berdasarkan perjalanan cinta keduanya.

Dan di buku ini juga di sajikan pilihan lagu romantis seperti lagunua Jonas Brothers, kemudian thousand years nya Christina Perri.

Nah, sekian resensinya. Terimakasih banyak untuk penulis atas buku manisnya.

Salam

Pena Bersayap

Kita adalah KITA

Sumber Pic: Pinterest

Izinkan aku bersajak untukmu. Maukah kau mendengarkan sedikit sajakku ini. Sedikit saja, jika nanti terlampau banyak jangan salahkan aku ya. Karena, saat aku menuliskan apa pun tentangmu, semua terasa begitu luas.

Bagaimana, kau sudah siap?

O iya, kuberitahu. Aku sedang menyelesaikan buku bacaan yang cukup berat judulnya Instanbul (Orhan Pamuk) baru sampai halaman 60. Novel terjemahan memang menguras sedikit tenaga.

Jadi kau penasaran sajak apa yang ingin kutulis? Baiklah.

Kau tahu, kau adalah diam-diamku yang kutatap dari jendela kamar. Kau pasti menyangkal, kitakan bukan tetangga. Ya, betul sekali. Tapi saat pertamakali kubuka jendelaku setiap pagi, aroma parfummu begitu khas terasa.

Kau yang tak beraniku mimpikan tak pula berani kuharapkan. Lalu? Karena keduanya akan begitu menyakitkan. Kau kepasrahanku pada semesta, meski setengah mati aku menepis segala mimpi dan harap tentangmu

Perbincangan panjang, cara bicara segalanya terekam rapi. Ah, kita bukan kisah Laila dan Majnun yang tersohor atau kisah romantis di dongeng-dongeng sebelum tidur.

Kita adalah kita dengan cerita kita sendiri. Aku tak mau jadi dongeng, tak mau juga jadi lagenda. Aku mau kita menjadi KITA dalam cerita kita yang menjadi nyata.

Salam

Pena Bersayap

Perbedaan

Pic:Pinterest

Kota masih terdengar ramai, hiruk pikuk baru saja dimulai. Padahal jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam. Kota ini memang begitu, keramaian selalu dimulai sejak pukul 23.00 malam. Orang-orang bekerja, sekolah dan kegiatan lainnya dimulai pada tengah malam.

“Di sini aneh.” Ujarku padamu

“Ha-ha apa yang aneh?” kau justru balik bertanya dengan tatapan lucu.

“Kau tidak sedang membawaku ke tempat yang aneh bukan?” aku bertanya lagi memasang wajah tak percaya.

“Tidak. Ini bukan tempat yang aneh. Ini hanya sementara.” Jawabmu.

“Setelah ini kita akan pergi lagi?” Tanyaku.

“Iya, kita akan bertemu banyak hal lagi setelah ini. Kadang kita perlu belajar dari sudut kota dengan segala hiruk pikuknya. Sama halnya dengan kita belajar banyak hal tentang setiap isi kepala manusia. Itu artinya perbedaan.” Jelasmu.

“Kau masih ingat ketika kau menangis sejadi-jadinya karena ucapan adikku?” Kau bertanya lembut.

“Iya, masih.”Aku menjawab pelan dan masih mulai mencerna.

“Atau kau masih ingat bagaimana ekspresi ketika pulang kerja dan kemudian ditodong banyak pertanyaan dari Ibumu?” kau kembali bertanya lembut

“Iya, aku masih ingat.” jawabku.

“Rindu, lihat aku!Jangan sedih lagi, aku sengaja membawamu ke sini, mengajak kita melihat banyak perbedaan, belajar menjadi orang baru di sini. Kita tidak hidup sendiri, ada hati oranglain yang harus kita lihat.” Kata-katamu membuatku semakin terisak.

Aku tahu, tak mudah hidup dalam kehidupan yang seluruh isi kepalanya tak pernah ku fahami sebelumnya. Tangisku menjadi-jadi. Pelukanmu semakin kuat.

” Terimakasih untuk pelajaran ini. “Ucap ku berbisik sambil menahan air mata.

” Tak apa, ini dunia kita Rindu. Kita yang menjalani, kita yang belajar, kita yang mengahadapi. Ayo sama-sama memahami. ” Kau menggenggam tanganku erat.

Kota semakin ramai, bulan berlalu, matahari tiba, sinar merambah dan kota mulai sunyi. Dan kita kembali memahami.

Salam

Pena Bersayap

Bumi dan Kita

Pic: Pinterest

Bumi ini ibarat sebuah sekolah, kita adalah murid dan seluruh yang di bumi adalah guru. Kadang kita menjadi guru, kadang kita menjadi murid.

Sebagaimana dalam kitab ta’lim Muta’alim kita harus menghormati guru dan menjaga sekolah kita. Begitu pula di bumi ini, kita harus menghormati satu sama lain sebagai guru dan murid serta menjaga bumi yang kita pijaki.

Beberapa hari ini, berita kabut yang terjadi di kota provinsiku Pontianak semakin marak. Di tambah pula air sungai kapuas semakin surut serta mengeluhya masyarakat akan keringnya sumur dan rasa air yang asin.

Tak hanya itu, salah satu daerah di Indonesia sedang dilanda gempa. Lombok.

Kerap kali aku bertanya pada salah satu sahabatku, bagaimana keadaan mereka sekeluarga dan dia selalu menjawab “kami trauma.”

Bumi ini perlu dijaga dan dihormati. Siapa lagi kalau bukan kita penghuninya. Kita banyak belajar di bumi ini, suka, duka, air mata, dan tawa telah terjadi di bumi ini.

Proses hidup yang terjadi, terjadi begitu saja di atas bumi yang kita pijaki. Mungkin hari ini bumi sedang memberi materi ujiannya pada kita sebagai manusia untuk menaikan level kita sebagai murid. Untuk mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia manusia yang kuat, manusia yang tabah dan sabar.

Semoga setelah ujian ini berlalu, kita akan mengevaluasi masing masing tingkat kesalahan kita, agar bisa terus berbenah.

Tulisan singkat ini aku dedikasikan untuk saudara-saudaraku di Lombok, Pontianak dan yang sedang mengalami banyak ujian. Semoga kita terus kuat.

Salam manis

Pena Bersayap

Hani Septiana

Nasehat Bapak

Kepasrahan kita sudah barang tentu hanya diperuntutkan pada Allah (Bapak)

Aku dan Bapak sama-sama suka air sari kedelai. Bedanya lagi Bapak lebih suka kopi dan aku lebih suka teh.

Bapak paling takut dengan ketinggian, tapi beda denganku. Aku berani manjat pohon tinggi dan kemudian terjun bebas ke sungai. Bapak lebih suka membahas masalah politik, dan aku lebih dengerin Bapak bilang “Mahasiswa kok nggak tahu isu ini itu.” Itu dulu pas zaman masih kuliah tiap kali Bapak telpon yang ditanya isu terbaru. Aku cuma jawab “Belum baca.” sambil ketawa.

Sabtu pekan lalu, Bapak harus rawat inap di rumah sakit. Bermula dari telpon dipagi hari dari Bapak yang membuatku kebingungan sendiri. Suara di ujung telpon menggambarkan kesakitan yang luar biasa. Tak ada lain dipikiranku, hanya bagaimana cara cepat untuk bisa sampai ke lokasi menjemput Bapak.

Itu pertama kalinya, aku merasakan sesak luar biasa. Menatap Bapak kesakitan dan aku hanya bisa berbuat semampuku. Padahal dulu sekali, saat aku bayi, Bapaklah orang satu-satunya yang rela menyedot hidungku saat tersumbat. Bapak orang satu-satunya yang rela mengantarkan ku ke sekolah meski hujan. Bapak orang yang rela menarik tangan ku saat asyik bermain hujan dan petir hampir menyambar. Bapak orang satu- satunya yang rela tidak beli baju lebaran asal anak-anaknya bisa sekolah.

Air mataku tertahan, tertahan. Meski dadaku masih sesak saat Bapak bilang “Pengang tangan Bapak.”

Apa yang bisa aku lakukan, selain menunggu mobil jemputan untuk segera ke rumah sakit.

Andai saja rasa sakit itu bisa digantikan layaknya peran pengganti dalam film laga, aku rela menggantikannya. Tapi tidak, tak ada tawar menawar perihal jalan hidup seseorang. Meski Bapak atau Ibu kita sekalipun.

Hari ini saat aku menuliskan tulisan ini, Bapak kembali dirawat inap untuk pengobatan selanjutnya. Wajah Bapak tampak jauh lebih sehat meski terlihat sedikit kurus. Seluruh kesehatan lain tak ada yang terganggu dan itu menunjukan bahwa pengobatan selanjutnya akan berjalan sebagaimana mestinya dan lancar.

Pak, segera sehat kembali ya. Mohon dimaafkan segala hatur maaf atas segala salah yang berlimpah ini. Nasehat Bapak masih selalu aku perlukan sampai kapanpun.

Nanti, suatu hari kalau kamu dipertemukan dengan seorang laki-laki carilah yang mau menikahi mimpimu, keluargamu dan dirimu. (Bapak)

Untuk siapapun yang sedang sakit semoga segera disehatkan, yang sehat selalu dikuatkan.

Salam

Pena Bersayap

Melawan Diri Sendiri

Tulisan pertamaku di tanggal 20 ini, ditulis pas lagi nunggu motor dicuci bersih. Hawa panas dan debu di kota Sintang, membuat motor bisa dibuat ‘tayammum’ berdebu. Sambil duduk menunggu aku teringat setahun belakangan ini tentang segala hal yang terjadi. Ada suka, duka, tangis, tawa serta paket komplit lainnya.

Tadinya di awal-awal tahun, banyak sekali hal-hal yang ingin dilakukan tapi makin ke sini, makin lupa diri, lebih nurut dengan si ‘nanti’ akhirnya kalah dengan diri sendiri.

Melawan diri sendiri itu memang paling susah, beda sama ngelawan orang. Asli beda banget. Makanya, lewat ‘Melawan Diri Sendiri’ ini aku ngajak diriku sendiri buat konsisten nulis. Malas nulis, bagiku sama artinya malas baca. Malas baca buku, baca jurnal, baca novel dan baca kehidupan.

Nah, buat teman-teman yang mau ‘Melawan Diri Sendiri’ bisa ikutan nulis di blog, instagram, facebook (Jangan lupa Tag aku ya!) kita akan berbagi cerita.

Udah dulu, motor udah bersih saatnya ganti Oli 😂.

Selamat membaca

Salam

Pena Bersayap

Bolehkah Dunia Aku Lihat?

blog
Sumber : Pinterest

Kali ini setelah beberapa purnama akhirnya aku memutuskan untuk berperang melawan si”Nanti” untuk menulis ini. Sudah sejak dua pekan sebenarnya, apa yang tertuang dalam tulisan ini ingin aku tulis.

Rabu, dua pekan lalu (hitung sendiri J ) hehe tepatnya tanggal 6 Maret aku mengantarkan adik pertama  ke rumah sakit daerah, Ade Moh Djoen.

Pagi Rabu itu ditemani hujan yang cukup deras dan akhirnya kami sampai di lantai dua rumah sakit. Lantai dua yang dikhususkan bagi pasien rawat jalan, sudah padat raya dipenuhi orang-orang yang sudah antri di depan poli tujuan masing-masing.  Setelah mengurus ini itu, akhirnya kami menunggu di depan poli gigi. Kebetulan adik perempuan ku ini memang sedang proses pemeriksaan gigi dengan penambalan gigi perawatan.

Hampir setengah jam berlalu, nama adikku belum juga dipanggil masuk ke dalam ruangan. Dia masih sibuk menyelesaikan latihan merajutnya dan aku masih sibuk dengan buku. Tiba-tiba saja, dia beranjak ke kursi belakang dan ngobrol asik dengan salah seorang ibu paruh baya dengan seorang anak balitanya. Awalnya aku masih belum tertarik untuk ikut nimbrung obrolan adikku dengan ibu tersebut. Aku tahu betul, dia tipe paling mudah akrab dengan orang yang baru saja ia temui. Jadi aku pikir, mungkin dia tengah bosan mengantri di depan poli gigi ini.

Tiba-tiba saja ia memukul pahaku dan sedikit berbisik “Kak, kasihan banget adek kecil itu.” Spontan aku kaget dan menoleh ke arah belakang, jarak kursi kami dipisahkan satu sekat kursi panjang, jadi otomatis ibu tersebut tidak menyadari ekspresiku.

“Adek kecil itu, nggak bisa lihat.” Dia kembali menjelaskan padaku dengan nada amat pelan. Spontan saja aku kanget.

“Kok bisa?” Dengan jenis pertanyaan macam apa, aku bertanya kaget. Belum sempat menjawab pertanyaanku, adikku kembali menolah  ke arah belakang, memegang pipinya. Karena ternyata adik kecil tersebut berusaha berjalan dituntun ibunya. Aku dengan rasa penasaranku langsung bertanya.

“Bu, maaf. Adiknya sakit apa?” Dengan nada hati-hati sekali aku melontarkan pertanyaan pada sosok ibu di depanku ini.

“Katarak mbak.” Ibu tersebut langsung menjawab rasa penasaranku.

“Umur adeknya berapa bu?” Masih dengan perasaan penasaran, iba dan sebagainya. Aku melontarkan pertanyaan kembali.

“Baru satu tahun setengah mbak.” Ibu tersebut menjawab sambil terus menuntun anaknya berjalan. Ibu dengan tubuh yang kurus ini begitu amat terlihat tegar, dan menurutku dia bukan orang kota melainkan orang daerah pedalaman yang rumahnya cukup jauh dari kota.

“Dia baru habis operasi mbak, tapi justru nggak bisa lihat sama sekali. Waktu umur setahun pas, dia kena panas tinggi. Dan kemudian berpengaruh ke matanya.” Ibu, itu berbicara padaku yang masih tertegun dengan logat bicaranya khasnya, seolah tahu betul apa yang ingin aku tanyakan.

Deg, deng, jantungku mulai terasa tak beraturan. Sedih bercampur aduk. Bagaimana mungkin katarak menyerang balita. Tapi kemudian aku ingat katarak memang sangat mungkin menyerang balita dan beberapa tempo lalu, kita tahu anak seorang artis pun ada yang terserang katarak saat bayi.

Katarak sendiri menurut beberapa artikel yang aku baca merupakan kondisi lensa mata yang terdapat bercak putih menyerupai awan. Biasanya katarak menyerang orang berusia lanjut. Namun katarak juga bisa menyerang bayi, katarak jenis ini dinamakan  katarak kongenilitas disebabkan beberapa faktor salah satunya kuturan dan katarak juga bisa menyerang usia balita karena reaksi terhadap obat-obatan tertentu, benturan sekitar mata dan bawaan lahir (berbagai sumber). Dan mendeteksi katarak memang harus dilakukan oleh seorang ibu sejak anak masih bayi. (Mungkin jika ada dokter yang membaca bisa menjelaskan tentang ini)

Aku sudah tidak bisa berkata banyak melihat kondisi adik laki-laki lucu, berbadan kurus di hadapan kami. Aku hanya bisa berkata “Cepat sehat ya dek, cepat bisa melihat dunia.” Sambil mengelus pipi adik tersebut yang belum sempat aku tanyakan namanya.


Kemudian pekan selanjutnya, aku dan adikku kembali menunggu di depan poli gigi. Adik kecil itu tak kunjung datang.


Note:

betapa banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian di sekitar, banyak hal yang bisa dijadikan acuan untuk bersyukur. Belajar tentu tidak hanya melulu soal bangku sekolah. Ki Hajar Dewantara pun pernah berkata bahwa setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Tentu, mengatarkan adikku ke rumah sakit pekan itu adalah waktu kami untuk belajar dari adik kecil dan ibunya yang terlihat begitu tegar, dari seorang bocah usia kurang lebih 7 tahunan terdapat gangguan mata sehingga kesulitan untuk melihat, seorang nenek yang menunggu berjam-jam di depan poli mata, bayi yang tidak mengalami tumbuh kembang yang baik padahal harusnya dia sudah bisa berbicara dan orang-orang yang silih berganti datang di ruang rawat jalan tersebut.

Kadang-kadang kita ini menjadi sedikit lebih sombong atas sedikit kenikmatan, jabatan, kekayaan dan kecantikan yang Tuhan beri, sehingga kita tak mau belajar dari siapapun, termasuk diri kita sendiri.

Selamat membaca.

 

Pena Bersayap

 

Dedication for you San!

gambar_persahabatan_7

Animasi from gambarcantik.com

Tulisan ini sengaja aku dedikasikan untuk salah satu dari sekian sahabat-sahabatku ‘Santi Wahyufi Dingsih”. Hei, selamat ya sudah sampai tahap mendebarkan. Semoga perjalanan menuju impian diberi kelancaran dan saya percaya kamu bisa.

Oke, namanya Santi. Ya, sejak awal kenal nama panggilannya ya Santi, tapi beranjak ke sininya. Aku lebih sering panggil Santo ke dia. Awalnya, cuma pengen ngisi blog yang udah hampir sedikit usang. Kalau ibarat buku, blog ini udah berada pada tumpukan paling bawah dan Alhamdulillahnya belum sampai masuk kardus atau diloakan. Miris.Terus, udah berpekan-pekan ini memang lagi banyak banget himpitan seperti himpitan dinding misalnya, eh bukan kok? Himpitan kehidupan. Biasalah hidup tanpa masalah bagai sayur kurang garam. Bener nggak?

Tapi jangan sedih ya San. Tulisan ini bukan sekedar pengisi blog tapi lebih dari itu. Pure, this is dedication for you. Sebagai ungkapan kebahagianku atas semangat dan kerja kerasmu. Banyak hal yang bisa aku ambil dari banyak kebersamaan dengan si Santi ini. Satu, belajar kuat. Sebenarnya kuat nggak kuat, ya seseorang itulah sendiri yang bisa menjaga keseimbanganya. Tapi tetap saja kita ini punya titik lemah di mana kita perlu orang-orang yang bisa kasih kekuatan. Bukan ala-ala film Mak Lampir ya. Maksudnya adalah mencontoh kebaikan pada orang lain. “Kamu itu wonder women San, rugi kalau ada yang nyakitin kamu.” Inikan jargon kita dulu kalau salah satu lagi weak.

kedua, So many thing I get from you. Banyak banget hal yang udah dilewati bareng si Santi ini. Manis asemnya perjalanan di kota Apel kelewat bareng sama dia. Mungkin karena kita satu asrama kali ya, sekos juga, sepiring pernah nggak?

Tapi lantas akhirnya, aku harus ninggalin dia di kos seorang diri waktu itu. Masih adakan anak kos yang lain? Kalau ibarat main bola nih, aku itu keluar area lapangan tiba-tiba padahal pertandingan belum berakhir. Aku keluar area dengan masih membawa banyak mimpi-mimpi yang belum tercapai, belum tercapai tapi bukan berarti nggak sama sekali kan untuk bisa mewujudkanya?

Kadang aku sering banget mikir, kapan ya kita bisa ketemu lagi di dunia ini? Kalau nggak bisa nggak apa-apa kok tapi setiap sajak doa, ada harapan untuk bisa bertemu di akhirat nanti.

Thank you ya San. Buat selalu nyemangatin biar bisa apply scholarship juga. Nyemangatin biar mimpi-mimpi ini tetap menyala. Sukses ya buat interview ya! Semoga kita selalu mengingatkan dalam hal kebaikan.

Salam dari kami sekeluarga di Sintang Kalimantan Barat untuk dikau dan amak apakmu di Riau.